Apakah Kegagalan Lebih Produktif Daripada Keberhasilan?

Manusia, dalam kesehariannya pasti pernah mengalami kegagalan juga keberhasilan.
Keduanya sudah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari setiap tindakan manusia.
Namun, cara masyarakat menyikapi keduanya sangat beragam. Ada yang santai, ada pula
yang panik. Ada yang bersemangat sementara yang lain justru lesu.


Kegagalan, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah ‘kondisi tidak
tercapainya maksud, keinginan, atau tujuan seseorang. Sebaliknya, keberhasilan dapat
dipahami sebagai tercapainya tujuan yang diharapkan setelah melalui usaha, kerja keras,
atau upaya tertentu. Sementara produktivitas ialah kemampuan untuk menghasilkan suatu
hal atau mencapai suatu target secara efisien dan efektif melalui sumber daya tertentu.


Kegagalan merupakan hal yang sangat wajar terjadi, terutama bagi seorang pemula yang
baru saja mulai menekuni hal baru. Penyebab kegagalan sendiri sangatlah beragam, mulai
dari kurangnya pengalaman dan persiapan, minimnya rasa percaya diri, hingga tekad dan
disiplin dalam rutinitas baru yang masih berantakan. Kegagalan sangatlah wajar untuk
terjadi pada permulaan. Sebaliknya, keberhasilan umumnya dicapai setelah usaha keras,
setelah melalui banyak kegagalan. Tak sedikit orang yang mengatakan bahwa keberhasilan
hanya akan diraih setelah bertahan dari banyak kegagalan. Dengan evaluasi, penerimaan,
serta semangat setelah mengalami kegagalan.


Keberhasilan maupun kegagalan meskipun tampak seperti putusan akhir, pada akhirnya
hanyalah permulaan. Yang lebih penting dari keduanya ialah, apakah kegagalan atau
keberhasilan pada akhirnya membawa produktivitas? Apa yang kita dapat setelah
berhasil/gagal? Baik keberhasilan maupun kegagalan pada akhirnya bersifat relatif. Apakah
seseorang dianggap gagal ataupun berhasil bergantung pada tujuan yang ditetapkan oleh
seseorang itu sendiri. contohnya seperti seseorang yang berhasil menulis 50 halaman buku
dalam sehari. bila target awalnya hanya 30 halaman, maka dia telah berhasil mencapai
target. namun bila target yang ia tetapkan adalah 100 halaman, maka dia gagal.
Maka, Apakah kegagalan lebih produktif daripada keberhasilan?
Jawabannya ialah, tidak.


Bagi sebagian besar orang, kegagalan masih seringkali menyebabkan turunnya motivasi,
tidak banyak yang kesulitan menerima kegagalan karena banyak faktor. Seperti ekspektasi
yang terlalu tinggi, kurangnya dukungan sosial, atau karena kegagalan yang terjadi
disebabkan kesalahan pihak ketiga. Yang mana hal ini dapat memicu banyak efek samping
yang menurunkan produktivitas seseorang secara drastis seperti stres dan kecemasan,
menurunnya rasa percaya diri, menghindari tanggung jawab yang kemudian berujung pada
hilangnya peluang untuk belajar dan berkembang.


Sementara itu keberhasilan dapat menjadi sumber rasa percaya diri dan motivasi yang luar
biasa. Layaknya kafein, keberhasilan dapat memicu hasrat seseorang untuk berkreativitas
secara drastis. kesuksesan pertama dapat memicu semangat dalam meraih kesuksesan
kedua, ketiga, keempat dan seterusnya.


Namun terkadang, kegagalan justru lebih produktif dari pada keberhasilan.
Bagi orang-orang bermental baja, bagi seseorang di lingkungan masyarakat yang mengerti
dan saling memahami, kegagalan justru menjadi catatan yang sangat berharga. Kegagalan
menjadi pelajaran, evaluasi, bahkan materi bernilai untuk dibagikan pada masyarakat.
Sebaliknya, keberhasilan bisa saja justru membawa bencana.


Adrenalin yang dibawa oleh keberhasilan pertama yang tidak diimbangi dengan manajemen
waktu yang baik beresiko mengarah pada kelelahan ekstrim tanpa disadari. Rasa percaya
diri yang berlebihan juga dapat menjadi kesombongan yang merusak segala prestasi
sebelumnya. Keberhasilan terkadang membawa ilusi kesempurnaan yang menyebabkan
berhenti belajar.


Kegagalan dan keberhasilan bukanlah segalanya. Apa yang didapat setelahnya-lah yang
lebih penting. Apakah perubahan kearah yang lebih baik atau justru penurunan pada
kualitas diri?


Sayyidina Ali bin Abi Thalib RA berkata,
“Barang siapa yang hari ini lebih baik dari hari kemarin, dialah tergolong orang yang beruntung, (dan)
barang siapa yang hari ini sama dengan hari kemarin dialah tergolong orang yang merugi dan
bahkan, barang siapa yang hari ini lebih buruk dari hari kemarin dialah tergolong orang yang celaka.”

Tak ada salahnya gagal, namun jangan berhenti.
Tak ada salahnya sukses, namun selalu waspada dan hati-hati.
Semakin tinggi tempatmu berada, semakin sakitlah bila kamu jatuh nanti.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *