Hidup adalah kesempatan paling berharga yang Tuhan anugerahkan kepada manusia. Dalam hidup, kita dituntut untuk menjaga segala yang telah dititikanNya — tubuh, pikiran, harta, keluarga dan lainnya. Namun, tak jarang hidup menuntut kita memilih: mana yang harus dijaga, dan mana yang harus dikorbankan? Di titik itu, muncul pertanyaan yang tak sederhana: apa sebenarnya yang harus kita prioritaskan dalam hidup ini?
Sebagian orang berkata, kita harus memprioritaskan diri sendiri. Tetapi sebelum kita menyetujui hal itu, mari kita renungkan: siapakah “diri” yang dimaksud? Apakah tubuh ini, yang dapat rusak dan binasa, atau sesuatu yang lebih dalam — sesuatu yang tetap hidup bahkan ketika jasad telah tiada?
Mengenal Diri yang Sejati
Manusia tersusun atas dua unsur: jasmani dan rohani.
Jasmani adalah tubuh, alat yang membuat kita bisa berjalan, berbicara, dan merasakan dunia. Rohani adalah jiwa — suatu kesadaran yang tak kasat mata, namun menjadi inti dari siapa kita sebenarnya.
Tubuh dipimpin oleh otak, sistem paling canggih yang Allah ciptakan. Ia mengatur segalanya tanpa henti, bahkan saat kita tertidur. Namun otak hanyalah mesin. Ia tidak tahu untuk apa ia hidup, sampai jiwa menanamkan tujuan kepadanya.
Sedangkan jiwa adalah pengendali yang sesungguhnya. Ia menggunakan tubuh sebagai alat. Melalui mata, ia melihat; melalui telinga, ia mendengar. Tanpa tubuh, jiwa tak dapat berinteraksi, tapi tanpa jiwa, tubuh hanyalah benda mati. Berbeda dengan Tuhan yang zatnya sendiri bisa segala hal tanpa membutuhkan alat, Ia Maha melihat dan tidak butuh alat untuk melihat. Dan di dalam jiwa, terdapat tiga kekuatan besar yang saling berinteraksi: hawa nafsu, hati nurani, dan akal.
Pertarungan di Dalam Diri
Hawa nafsu adalah dorongan yang paling liar — ia menginginkan kepuasan, kekuasaan, dan kebanggaan. Hati nurani adalah bisikan lembut, yang mengarahkan manusia kepada kebaikan. Sedangkan akal adalah penimbang di antara keduanya; ia memutuskan ke mana arah jiwa akan melangkah.
Gambaran mudahnya, bayangkan ada sebuah forum perdebatan di dalam diri manusia. Di satu sisi duduk hawa nafsu yang menggoda, di sisi lain hati nurani yang menasihati. Dan keduanya saling berdebat. Akal menjadi moderatornya, sementara otak menjadi ruang tempat seluruh perdebatan itu berlangsung. Setelah keputusan diambil, tubuhlah yang mengeksekusinya. Maka lahirlah perbuatan — baik atau buruk — sebagai hasil dari pertemuan tiga unsur itu. Lalu disimpan oleh sel-sel otak sebagai bentuk memori.
Ketika hati nurani menang, lahirlah manusia berakal sehat. Namun ketika hawa nafsu menguasai, akal kehilangan arah, dan manusia berubah menjadi budak keinginannya sendiri.
Siapakah “Aku” yang Sebenarnya?
Ketika seseorang berkata, “jagalah dirimu sendiri”, siapa yang dimaksud dengan “dirimu”? Apakah tubuh yang terlihat di cermin? Ataukah sesuatu yang tak tampak — yang tetap hidup setelah napas berhenti?
Ketika kematian datang, tubuh kehilangan fungsinya, menjadi dingin, lalu kembali ke tanah. Namun jiwa tidak ikut mati; ia berpindah ke alam lain selanjutnya. Tubuh hanya pakaian sementara, sedangkan jiwa adalah hakikat yang sejati. Karena itu, menjaga diri sejatinya berarti menjaga jiwa.
Menjaga Jiwa: Kewajiban yang Tak Bisa Diwakilkan
Menjaga jiwa berarti menjaga keseimbangan antara akal, hati, dan nafsu.
Jiwa yang sehat akan melahirkan pikiran yang jernih dan tindakan yang bijak. Namun jiwa yang sakit akan menularkan penyakitnya pada seluruh aspek kehidupan — pada cara berbicara, cara memandang, bahkan cara mencintai. Jika tubuh sakit, orang lain masih bisa membantu menyembuhkan. Tapi jika jiwa yang sakit, hanya diri sendiri yang dapat menyembuhkannya. Sebab yang rusak bukanlah luka di kulit, melainkan jiwanya.
Ketika seseorang lebih mencintai hartanya daripada jiwanya, ia akan menjadi pelit, rakus, dan cemas. Dan itu akan menghancurkan jiwanya. Dan ketika jiwa seseorang rusak, maka otak akan merespon kerusakan itu menjadi berbagai perilaku buruk yang berimbas pada buruknya indentitas orang tersebut. Harta, tubuh, dan jabatan semuanya fana. Satu-satunya yang kekal hanyalah jiwa — yang kelak akan berdiri sendiri di hadapan Tuhan.
Jika setiap manusia mau menjaga jiwanya, dunia ini akan menjadi tempat yang lebih damai. Karena manusia yang damai dengan dirinya sendiri tak perlu untuk mengurusi urusan jiwa orang lain. Ia tahu bahwa hidup bukan soal menumpuk harta, memperindah struktur wajah atau mencari pujian, melainkan tentang bagaimana menjaga cahaya yang Tuhan letakkan di dalam dirinya.
Maka, sebelum menjaga apa pun di dunia ini — jagalah jiwamu. Sebab wajah yang indah akan lenyap di dalam tanah, keluarga akan lupa, harta akan sirna, namun jiwa akan kekal, dan di sanalah letak “diri” yang sesungguhnya.





Leave a Reply