Tak disangka pemilu tahun ini akan diwarnai dengan berbagai gejolak. Pagi ini, Manggala menerbitkan hasil investigasi terhadap calon presiden nomor urut 02 Azka Sabilirrasyad, Lc., terkait kabar yang beredar bahwa ia tidak memenuhi kriteria UU Pemilu 2025 pasal 16 ayat 2 poin G. Dalam investigasi itu disebutkan, bahwa Azka dalam riwayat organisasinya belum pernah menjabat koordinator di Gamajatim, melainkan ia pernah menjabat sebagai Plt. Koordinator yang secara tugas, wewenang dan tanggungjawab setara dengan peran Koordinator.
Ketika membaca tulisan yang diterbitkan oleh Manggala, ada beberapa pertanyaan yang keluar dari benak penulis, apalagi melihat situasi dan waktu tulisan itu diluncurkan. Banyak hal yang jika kita telaah lebih jauh, perlu kita pertanyakan apa motif Manggala di balik tulisan ini.
Pertama, melihat waktu diterbitkannya tulisan ini. Screening yang dijalani oleh tiap-tiap paslon sudah lewat berhari-hari yang lalu. Terlepas dari alibi bahwa ini adalah hasil investigasi, rasanya terlalu kebetulan tulisan ini diterbitkan bersamaan dengan hari H pencoblosan. Terlebih, investigasi yang dilakukan belum selesai dengan tidak adanya wawancara bersama Gubernur Gamajatim.
Kedua, narasumber yang dipilih. Untuk mendapatkan informasi yang lebih dalam, Kru Manggala mewawancarai dua orang DPO Gamajatim. Kedua DPO tersebut baru diangkat pada masa kepengurusan tahun ini, ditambah lagi mereka berdua tidak mengetahui bagaimana mekanisme pengangkatan Azka Sabilirrasyad, Lc. sebagai Plt. Koordinator. Seyogianya bukan kedua DPO itu yang diwawancarai oleh Manggala, melainkan pengurus Gamajatim pada masa itu.
Ketiga, tujuan awal dari Manggala. Dari keterangan Gubernur menyatakan bahwa tujuan utama Manggala menghubungi ialah untuk meminta pendapat atas dinamika yang terjadi pada Pemilu kali ini terkait “kedua Paslon” yang berasal dari Gamajatim. Artinya tidak ada tujuan yang jelas dan khusus untuk melakukan investigasi terhadap Azka Sabilirassyad. Ironinya, hasil dari investigasi itu sangat berlainan dengan niat awal. Investigasi itu justru terkesan cenderung dan memojokan salah satu paslon. Padahal, niat awal Manggala ingin mewawancarai terkait kedua paslon dari Gamajatim.
Ironinya lagi, Terlepas dari semua permasalahan yang diangkat Manggala, sejatinya semua itu sudah tutup kasus di meja panwaslura. Panwaslura sebagai gerbang paslon sudah membuka pintu seluas-luasnya bagi paslon 02 untuk mengikuti ajang pemilu tahun ini. Panwaslura juga sudah melakukan mediasi dengan kedua calon terkait permasalahan yang ada. Walaupun tidak dijelaskan lebih jauh bagaimana mediasi berlangsung, tapi sudah ditegaskan bahwa semua pihak dalam pemilu raya ini seperti, pihak penyelenggara, PPR, Panwaslurara dan kedua paslon sudah menerima hasil yang ada.
Kejanggalan ini tidak cukup berhenti di sini. Panwaslura sebagai pengawas acara ini dinilai kurang bijak dalam menyelesaikan masalah yang ada. Menerima wawancara dari Manggala dengan mengutarakan banyak pendapat kiranya membuka pintu serangan ke salah satu paslon. Mediasi yang berujung pada kesepakatan berbagai pihak dan diterimanya administrasi paslon 02 sejatinya sudah cukup untuk menjawab permintaan dari pihak Manggala. Dengan demikian, Panwaslura seyogianya tidak perlu mengindahkan wawancara dari Manggala sebab dapat memperkeruh suasana.
Di akhir tulisan investigasi itu, Manggala menyatakan telah berusaha menghubungi Gubernur untuk meminta keterangan terkait dan belum mendapatkan jawaban pasti terkait waktu dan kesediaan wawancara. Jika di awal investigasi ini, Manggala memang ingin menjelaskan terkait polemik ini agar tidak ada kesalahpahaman di benak masyarakat, maka menerbitkan tulisan sebelum menyelesaikan investigasi dengan seluruh pihak terkait akan mencederai kenetralan tulisan, yang bisa berdampak pada penggiringan opini yang kurang baik terhadap salah satu paslon.
Selanjutnya, bertepatan dengan Jawa Cup yang dilaksanakan kemarin, Manggala terkesan mengambil kesempatan tersebut untuk menjebak agar seakan-akan Gubernur tidak ingin dimintai keterangan. Padahal, jika kita lihat realita yang terjadi, Gubernur pada saat itu tidak mempunyai waktu yang memadai untuk melaksanakan wawancara tersebut sekalipun hanya sebentar dan via online. Di samping itu, pihak Manggala baru menghubungi Gubernur Gamajatim menjelang tengah malam hari Jum’at. Yang mana pada hari Sabtu dilaksanakan pembukaan Jawa Cup dan pertandingan pertama Airlangga fc. Tidak mungkin dalam kesibukan seperti itu Gubernur meninggalkan kewajibannya untuk menyanggupi wawancara dari pihak Manggala. Ditambah setelah Jawa Cup, musibah menimpa salah satu warga Gamajatim sehingga masuk rumah sakit. Menangani orang sakit rasanya lebih penting daripada menghadiri wawancara yang bisa diperdebatkan motif dibaliknya.
Di samping itu semua, ada banyak hal yang menjadi kejanggalan dalam investigasi Manggala ketika diklaim bahwa hal tersebut murni untuk mencari kejelasan. Dari chat yang nir-etika, permintaan yang tidak sesuai dengan apa yang ditanyakan, melangkahi Gubernur sebagai pihak eksekutif dengan langsung mewawancarai DPO dan lain-lain. Atas dasar itu, investigasi yang dilakukan oleh Manggala seolah telah direncanakan sedemikian rupa untuk menciptakan narasi yang tidak pantas terhadap Azka Sabilirassyad di khalayak ramai. Dengan kejanggalan itu semua, rasanya tidak pantas untuk mencap tulisan ini sebagai hasil investigasi, tulisan ini lebih cocok jika disebut serangan terencana.


