Gamajatim.org, Kairo – Syahrul Fadil Syarifuddin, Lc. M.H., Ketua Forkapmi (Forum Konsultasi Pendidikan Al-Azhar Mesir) menilai keputusan Al-Azhar menghadirkan jalur Markaz Tatwir merupakan langkah yang luar biasa. Hal ini sebagaimana yang ia sampaikan dalam forum “Apa Kabar Masisir Part II” pada hari Senin (05/07) di Kafe Al-Qahwa, Darrasa.

Sebelumnya Fadil menjelaskan bahwa salah satu jalur menuju ke Al-Azhar hanyalah melewati Kemenag. Namun, di tahun 2019 jalur tersebut terpecah menjadi dua karena hadirnya Pusiba. Lalu, disusul dengan jalur ketiga yang merupakan dampak dari keputusan pondok-pondok Muadalah yang memisahkan diri dan memberangkatkan sendiri calon mahasiswa baru.

Kemudian, Fadil menjelaskan bahwa jalur kedua mengalami transformasi. Jika sebelumnya hanya Pusiba yang menjadi satu-satunya lembaga bahasa yang mampu menyaring dan memberangkatkan calon mahasiswa baru. Kini, lembaga-lembaga bahasa lainnya juga dapat menyaring dan memberangkatkan calon mahasiswa baru.

“Jalur kedua kemudian bertransformasi, kita tahu munculnya jalur kedua karena ada satu-satunya lembaga bahasa yang menyaring untuk anak-anak yang mau masuk ke Al-Azhar. Tetapi Al-Azhar punya qarar (Red: Keputusan) baru dan kita enggak boleh nyalahin qarar ini. 2023 mulai disyiarkan bahwa lembaga bahasa yang bisa diikuti oleh calon-calon mahasiswa baru adalah Markaz Tatwir. Dan ini sebuah luar biasa.” Jelas Fadil.

Fadil beralasan dengan adanya Markaz Tatwir dapat memberikan solusi bagi calon mahasiswa baru yang memiliki masalah pada ijazah muadalah tersebut.

“Kenapa? Karena di qarar tersebut menjadi solusi bagi teman-teman yang bermasalah ijazah muadalahnya meskipun sudah seleksi Kementerian Agama. Kenapa? Karena jalur seleksi Kementerian Agama tanpa adanya muadalah ijazah MAN pakai apa daftarnya? Pakai apa daftarnya? Enggak bakal bisa. Jadi ada banyak problem. Bagaimana konsep tata kelola pengiriman itu luar biasa ya. Tapi karena qoror Al-Azhar luar biasa memberikan jalan 2023-2024 mulailah bagaimana Markaz Tatwir melakukan skema tahdid mustawa, dauroh lughah, dan kemudian ditambah daurahnya, ada daurah ta’hili bagi siapa santri yang asal lembaganya belum muadalah maka mesti ikut daurah ta’hili agar ketika lulus ijazahnya nya distempel muadalah.”

Menanggapi pernyataan mengenai larangan menyalahi qarar, Glenn Sofyan Assyauri Lubis, Lc., Presiden PPMI Mesir memberikan tanggapannya bahwa Masisir sebagai orang terdidik dapat menyalahkan Al-Azhar terkait ketiadaan standardisasi dalam mekanisme seleksi masuk Universitas Al-Azhar yang ditetapkan dalam qarar tersebut. 

“Iya, kita salahkan. Kita salahkan. Tapi cara kita menyalahkan itu bukan dengan memaki-maki Al-Azhar, bukan dengan menghina-menghina Al-Azhar, tapi kita berikan data dan rekomendasi. Ini itu bentuk kita menyalahkan Al-Azhar. Kita adalah manusia-manusia terdidik. Masa kita lihat ada permasalahan, tidak ada apa namanya? Tidak ada institusi yang sempurna dan tidak ada institusi yang suci. Apalagi dalam konteks pelajar kita akademik, kita akademis, kita aktivis, kita aktivis intelektual.” Tegas Glenn.

Penulis: Faqih BillahEditor: Pena Airlangga

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *