Gamajatim.org, Kairo — Sebanyak 454 mahasiswa baru asal Jawa Timur kedatangan tahun akademik 2025/2026 resmi memulai langkahnya di Mesir melalui Orientasi Kaderisasi (OKAD) 2026 Gamajatim. Dengan jumlah tersebut, Gamajatim kembali menegaskan posisinya sebagai kekeluargaan terbesar kedua di Mesir, sekaligus menjadi salah satu simpul kaderisasi paling strategis bagi masisir.
Ketua Pelaksana OKAD 2026, Muhammad Wahbah El Zuhayly, menjelaskan bahwa tahun ini orientasi mengusung moto “Satya dalam Dharma, Digdaya dalam Karya” sebagai fondasi pembentukan karakter kader. Satya bermakna setia pada nilai dan tanggung jawab, sementara Digdaya dimaknai sebagai ketangguhan dalam berkarya dan mengabdi. “Pengabdian paling tangguh adalah melalui kerja nyata,” ujar Wahbah.
Gubernur Gamajatim, Azka Gadallah, menekankan pentingnya kesadaran identitas di tengah dinamika perantauan. Ia mengingatkan bahwa sebesar apa pun seseorang berkembang, ia tetap bagian dari keluarga Gamajatim. Azka berharap mahasiswa baru tidak sekadar hadir sebagai peserta orientasi, tetapi tumbuh sebagai kader yang aktif dan berkontribusi. Dengan total ratusan anggota baru tahun ini, Gamajatim disebutnya sebagai rumah bertumbuh yang harus dijaga bersama.
Senada dengan itu, Moch. Fikri Abdul Azis dari Dewan Pengawasan Organisasi mengajak mahasiswa baru mengikuti seluruh rangkaian orientasi untuk memahami dinamika kehidupan masisir di Mesir. Ia menegaskan bahwa tidak ada dikotomi antara masisir kuliah, talaki, organisasi, maupun komunitas, sebab seluruhnya merupakan bagian dari proses pembelajaran dan penguatan diri.
Dalam penutupannya, Fikri menyampaikan pesan reflektif kepada mahasiswa baru agar tidak meragukan kapasitas diri masing-masing. Ia mengutip sebuah perumpamaan untuk menggugah semangat peserta.
“Kata Baskara, tidak ada orang yang tidak bisa menyanyi, maka temukan suaramu. Tidak ada masisir yang tidak bisa belajar, maka temukan taqhosusmu,” ujar Fikri.
Pak Nur Fuad Shofiyullah, Lc dari Dewan Konsultatif turut menegaskan bahwa makna Digdaya yang paling mendasar adalah belajar. Ia menyebut dharma pertama masisir adalah belajar, kemudian menjadi pribadi Azhari yang menjaga integritas keilmuan dan adab.
Di luar penguatan nilai kaderisasi, sesi bahasa ‘ammiyah menjadi salah satu momen paling hidup dalam rangkaian acara. Materi tersebut disampaikan langsung oleh pemateri asal Mesir yang fasih berbahasa Indonesia. Ia menjelaskan perbedaan pelafalan dan penggunaan antara bahasa Arab fushah dan ‘ammiyah yang digunakan dalam percakapan sehari-hari.
“Bahasa ‘ammiyah tidak ada di buku, tapi ada di hati,” ungkapnya, disambut antusias peserta.
Salah satu mahasiswa baru kemudian diminta memperkenalkan diri menggunakan ‘ammiyah Mesir. Suasana forum yang semula formal berubah menjadi interaktif dan dinamis. Momen tersebut bukan sekadar praktik bahasa, tetapi simbol awal adaptasi sosial dan kultural mereka di tanah Kinanah.
OKAD 2026 tidak hanya menjadi seremoni penyambutan, melainkan titik awal pembentukan arah. Di tengah jumlah masisir yang terus bertambah dan tantangan akademik yang kian kompleks, Gamajatim menegaskan bahwa digdaya bukan sekadar slogan. Ia dimulai dari ruang belajar, dari kesetiaan pada proses dan dari keberanian menemukan peran di tengah diaspora pelajar Indonesia di Mesir.







